Seperti yang telah dikenal, bangku kuliah adalah tahap
pendidikan tinggi yang memiliki durasi tertentu, seperti S1, S2, dan S3. Namun,
dalam situasi di mana seseorang kurang bersemangat dalam menjalani kuliah atau
mengalami kendala tertentu, durasi studi mereka mungkin akan melebihi jangka
waktu yang semestinya. Di era yang terus berkembang, pendidikan tinggi terus
meningkatkan kualitasnya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan
teknologi yang semakin canggih. Pengguna media sosial, tentunya akrab dengan
judul yang saya gunakan ini. Judul tersebut terinspirasi oleh tren di media
sosial belakangan ini, yang banyak digunakan oleh mahasiswa untuk berbagi
pengalaman mereka dalam mengejar pendidikan di bangku kuliah secara ringkas.
Kuliah sebenarnya memiliki tujuan yang lebih dalam daripada
sekadar memperoleh gelar akademik. Kuliah adalah kesempatan untuk meningkatkan
pemahaman dan pengetahuan seseorang secara lebih mendalam. Sesuai dengan
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan
utama pendidikan adalah "mengembangkan potensi individu sehingga mereka
dapat menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga
negara yang demokratis dan bertanggung jawab."
Dengan kata lain, pendidikan tinggi bukan hanya tentang
mendapatkan gelar belaka, melainkan tentang proses pengembangan diri, moral,
keterampilan, dan pengetahuan yang lebih luas. Gelar akademik yang diperoleh
merupakan penghargaan atas kesabaran dan upaya yang diinvestasikan dalam
mengejar pendidikan yang memerlukan waktu dan kerja keras.
Pengalaman perkuliahan bagi penulis adalah campuran perasaan
antara rasa duka dan sedikit kebahagiaan. Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa,
seperti yang dijelaskan dalam judul "Kuliah Capek, Gak Kuliah, Gak
S.Pd," pendidikan tinggi sering kali terasa sangat melelahkan. Terlebih
lagi, kesan ini mungkin menimbulkan kesan bahwa beberapa orang hanya mengejar
gelar semata. Namun, kenyataannya, gelar seperti S.Pd. atau gelar pendidikan
lainnya hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal di perguruan tinggi.
Walaupun perkuliahan memang melelahkan, perasaan yang lebih
melelahkan adalah hidup dengan pengetahuan yang terbatas. Seperti yang
diungkapkan oleh Imam Syafi'i, "Jika kamu tidak tahan lelahnya belajar,
maka kamu harus siap merasakan perihnya kebodohan." Hal ini menggambarkan
bahwa meskipun perkuliahan bisa menjadi penantang, ketidakmampuan untuk belajar
dan berkembang dapat berdampak lebih buruk dalam jangka panjang.
Jujur, banyak di antara pembaca mungkin memiliki ekspektasi
awal bahwa kehidupan kuliah akan menyenangkan dan terkesan santai. Beberapa
mungkin berpikir bahwa tidak perlu mengenakan seragam ke kampus, jadwal
perkuliahan tidak penuh seharian, dan mungkin hanya ada satu atau dua mata
kuliah dalam sehari. Namun, saat kita menghadapi kenyataan, seringkali terasa
seperti mendapat tamparan keras.
Menjadi seorang mahasiswa tidak selalu mudah. Kita harus
siap menghadapi kekecewaan seperti menunggu dosen yang terlambat atau bahkan
tidak hadir dalam perkuliahan. Namun, di balik semua tantangan ini, proses
kuliah dapat membentuk kita menjadi individu yang lebih berkualitas, bahkan
melebihi standar, tergantung pada bagaimana kita menanggapi situasi tersebut.
Semua pengalaman tidak menyenangkan itu, jika dihadapi dengan sikap ikhlas dan
upaya perbaikan, bisa menghasilkan pencapaian yang baik dan memuaskan.
Seringkali, saat ditanya mengapa mereka kuliah, seseorang
mungkin memberikan alasan-alasan seperti "agar nanti ada gelar di belakang
nama," "untuk meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan," atau
"untuk mendapatkan pengakuan dari keluarga dan menghindari perbandingan
dengan anggota keluarga lain." Alasan-alasan ini memang realistis dan
beralasan.
Namun, untuk mendapatkan gelar S.Pd atau gelar lainnya,
seseorang harus menjalani sebuah proses pendidikan, dan dalam proses itu,
peningkatan pengetahuan pasti terjadi, sekalipun mungkin dalam jumlah kecil
atau terkadang terlupakan.
Mengubah diri ke versi yang lebih baik memang tidak selalu penuh kebahagiaan. Proses upgrade ini seringkali disertai dengan perasaan takut keluar dari zona nyaman, keberanian untuk mencoba hal baru, dan tekad untuk tidak pernah menyerah. Dalam keberanian dan tekad itulah seseorang bisa menemukan potensi terbaik dalam diri mereka, bahkan jika tidak selalu disertai dengan tawa bahagia.